Bantul – Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di wilayah DIY guna mengembangkan sektor ekonomi strategis dalam mempercepat pemulihan ekonomi dampak pandemi COVID-19.
“Hari ini pula Pemkab Bantul menjalin kerja sama dengan banyak sekali perguruan tinggi yang ingin mengembangkan sektor ekonomi strategis,” kata Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat membuka Silaturahmi Nasional (Silatnas) Paguyuban Warga Kabupaten Bantul (Warkaban) di Bantul, Minggu.
Menurut dia, Pemkab Bantul sudah menetapkan tiga sektor ekonomi strategis, yang pertama sektor industri termasuk di dalamnya Industri kreatif, kemudian sektor pertanian dengan berbagai inovasi, dan ketiga pariwisata, yang tiga tiganya punya keunggulan.
“Sektor industri kita sudah dinyatakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Nasional sebagai Kabupaten Kreatif Kriya terkuat di Indonesia, karena didukung dengan keberadaan berbagai usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kerajinan,” katanya.
Dia mengatakan, kemudian di sektor pertanian, Kabupaten Bantul dipercaya Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai salah satu wilayah pengembangan ‘food estate’ di Indonesia khususnya pada komoditas bawang merah dan cabai.
“Sudah ada tiga kecamatan di Bantul yang kita tunjuk, yang kita amanahi untuk mengembangkan tanaman hortikultura dan pertanian pangan yaitu Sanden, Kretek, dan Imogiri utamanya Desa Selopamioro dengan pengembangan bawang merah,” katanya.
Dia mengatakan, selanjutnya adalah sektor pariwisata, yang mana berdasarkan hasil temuan dari Dinas Pariwisata ketika disebutkan objek wisata di wilayah DIY kepada wisatawan, wisatawan langsung menyebut kalau tidak Malioboro di Kota Yogyakarta, ya Pantai Parangtritis di Bantul.
“Ini namanya ‘top of mind’, jadi sudah muncul begitu saja di fikiran para wisatawan, bahwa kita di Bantul mempunyai Pantai Parangtritis yang sangat melegenda itu,” katanya.
Bupati mengatakan, bahkan pantai yang menjadi andalan Bantul di sektor pariwisata itu sebelum pandemi COVID-19, mampu menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) dari penerimaan retribusi sekitar Rp33 miliar per tahun.
“Akan tetapi saat dihantam pandemi terjadi penurunan pendapatan yang cukup signifikan, namun demikian di awal 2022 sudah terjadi pemulihan, kemudian kita juga punya Hutan Pinus Mangunan, yang saat ini menjadi objek wisata yang sedang naik daun,” katanya. (Ant)





